Senin, 19 November 2012

Tri Kaya Parisudha dan Contohnya


TRI KAYA PARISUDHA

Pengertian
Tri Kaya Parisudha adalah bagian dari etika (susila) agama Hindu. Timbulnya kata Tri Kaya Parisudha berasal dari sebuah semboyan dharma yang berbunyi : “ Paropakaran punya ya, papaya, para piadanam “ mempunyai pengertian yaitu dari Tri artinya tiga, Kaya artinya gerak atau perbuatan dan parisudha artinya suci. Tri Kaya Parisudha artinya tiga gerak atau perbuatan yang harus disucikan.

            Tri Kaya Parisudha sebagai bagian dari ajaran etika dalam agama Hindu akan memberikan tuntunan dan jalan menuju pada kedamaian serta keharmonisan kehidupan di dunia dan akhirat. Kaya, Wak, dan Mana harus diarahkan pada hal – hal menuju kebaikan karena hanya manusia yang dapat merubah prilaku yang tidak baik kearah yang baik. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa menjelma menjadi manusia dengan kelebihan Sabda, Bayu, dan Idep merupakan suatu pahala keberuntungan dan sekaligus merupakan suatu keutamaan bagi manusia untuk berbuat baik (subha karma).
            Jika kita melakukan perbuatan jahat maka hasil yang diterima juga buruk, sebaliknya jika kita melakukan perbuatan baik maka hasilnya juga baik seperti semboyan yang mengatakan :
Ala ulah ala tinemu : perbuatan buruk hasilnya juga buruk.
Ayu pikardi ayu pinanggih : perbuatan baik hailnya juga baik.

Pembagian
Tri Kaya Parisudha terdiri dari tiga bagian yaitu:
1.      Kayika Parisudha, yaitu perbuatan atau laksana yang baik.
2.      Wacika Parisudha, yaitu perkataan yang baik.
3.      Manacika Parisudha, yaitu pikiran yang baik, dimaksudkan dari pikiran yang baik akan timbul kesucian diri.

Kayika Parisudha
            Kayika Parisudha adalah perbuatan atau laksana yang baik merupakan pengamalan dari pikiran dan perkataan yang baik. Perbuatan yang baik dapat dilakukan dari adanya pengendalian pada tingkah laku, utamanya terhadap Himsa Karma yaitu perbuatan menyakiti, menyiksa, atau membunuh mahluk yang tidak berdosa/bersalah. Himsa Karma hanya diperkenankan untuk keperluan yadnya. Adapun yang dituntut adalah perasaan manusia kearah keselarasan antara sesama manusia dan mahluk hidup lainnya (pawongan).
Setiap orang dengan anggota badannya akan berprilaku dan berbuat. Dalam melakukan perbuatan, jika dilaksanakan sesuai dengan ajaran kebenaran maka sudah tentu perbuatan yang dilakukan adalah baik dan benar. Setiap orang selagi ia masih hidup, selamanya ia akan berbuat dan melakukan suatu perbuatan. Dengan berbuat berarti telah melakukan karma, dari perbuatan karma inilah akan menentukan kehidupan seseorang (Karma Phala). Berkarma dalam masa kehidupan sekarang ini berarti mempersiapkan untuk kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu, orang – orang yang sadar akan hal ini, akan berusaha dalam kehidupan ini berbuat yang baik daripada masa – masa terdahulu. Sebab setiap orang mengharapkan adanya kehidupan yang baik dan lebih menyenangkan di masa – masa yang akan datang.
Contoh Kayika Parisudha dalam kehidupan sehari – hari, yaitu:
·         Menolong orang lain dalam mengalami kesulitan merupakan perbuatan yang baik. Misalnya adalah menolong teman bila dalam kesusahan seperti memerlukan uang. Kita sebagai teman harus membantunya, dengan cara meminjamkan uang kepada teman dengan ikhlas. Kita tahu nasib seorang anak kost yang merantau jauh dari keluarga, jadi sesama anak kost kita harus saling membantu khususnya teman kita sendiri.
Nilai moralnya adalah kita sesama manusia harus selalu berbuat tolong menolong, baik kepada orang yang kita sudah kenal maupun belum. Karena pada intinya kita adalah sama.
·         Tidak menyakiti atau membunuh makhluk hidup. Misalnya adalah sengaja menyiksa anjing. Anjing merupakan salah satu makhluk hidup ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa yang seharusnya kita sayangi bukan malah kita siksa. Pasti kita pernah melihat seseorang melempari anjing dengan batu atau dengan memukulnya dengan kayu. Sebenarnya itu tidak boleh, karena itu termasuk perbuatan yang melanggar Kayika Parisudha.
Nilai moralnya adalah kita sebagai makhluk hidup yang memiliki akal dan pikiran yang lebih dari binatang seharusnya tidak menyiksanya. Seharusnya itu kita menyayangi dan melindunginya.

Wacika Parisudha
            Perkataan yang baik, manis di dengarkan oleh setiap orang . perkataan itu patut timbul dari hati yang tulus, lemah lembut penyamapaiannya dan menyenangkan hati pendengarnya. Untuk dapat berkata yang baik patut dipikirkan terlebih dahulu. Kata – kata merupakan saran komunikasi yang paling cepat diterima di dalam pergaulan, perhubungan, pendidikan, penyuluhan, penerangan, dan lain sebagainya. Perkataan yang baik diusahakan untuk akawe suka wong len, yaitu: mengusahakan kesenangan untuk orang lain, karena orang lainlah yang akan mendengar dan merasakannya.
            Pustaka Manusmrta IV. 256 menyatakan perkataan itu menguasai segala sesuatu yang disebutkan sebagai berikut :
“ Warcyartha niyatah sarve wang mule wagwinih
Srtah, tam ta yah stenayedwacam sah sarwate
Yakrnnatah”.
Maksudnya :
Segala sesuatu dikuasai oleh perkataan, perkataanlah
Akar dan asal sesuatu orang tidak jujur dalam
Kata – kata, sesungguhnya tidak jujur dalam segalanya.
Mengeluarkan kata – kata patut disadari sebab ada empat hal yang akan diperoleh seperti dinyatakan dalam pustaka Nitisastra dalam bentuk kekawin pada Sargah V sebagai berikut :
Wasita nimittanta menemu laksmi
Wasita nimittanta pati kepangguh
Wasita nimittanta menemu duhka
Wasita nimittanta menemu mitra
Artinya :
Oleh perkataan engkau akan medapat kebahaiaan
Oleh perkataan engkau akan medapat kematian
Oleh perkataan engkau akan medapat kesusahan
Oleh perkataan engkau akan medapat sahabat
            Perkataan sangat perlu diperhatikan dan diteliti sebelum dikeluarkan karena perkataan merupakan alat yang penting bagi kita, guna menyampaikan segala isi hati dan maksud seseorang. Dari kata – kata kita dapat pula memperoleh suatu pengetahuan, mendapatkan suatu hiduran, serta nasehat – nasehat yang sangat berguna baik bagi kita maupun orang lain. Dengan kata – kata, orang dapat membuat susah orang lain.
            Contoh Wacika Parisudha dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
·         Tidak berkata – kata buruk yang dapat menyakiti hati / perasaan. Misalnya adalah mengejek – ejek kekurangan teman. Biasanya kita mengejek teman pada saat kita bercanda kepada teman. Kata – kata ejekan itu biasanya mengejek kekurangan bahkan orang tua. Sehingga teman itu akan tersakiti hatinya dan dia akan marah.
Nilai moralnya adalah kita sebaikannya tidak mengejek teman, karena itu dapat menyakiti perasaan dan mengundang amarah. Dalam berteman kita harus menjaga setiap perasaan teman kita, sehingga tidak ada perasaan yang tersakiti.
·         Tidak ingkar pada janji atau ucapan. Misalnya adalah selalu menepati janji. Dalam kehidupan sehari – hari pasti kita pernah berjanji kepada teman. Berjanji akan bertemu contoh. Setelah janji itu dibuat, ternyata kita lupa dan tidak datang utnuk bertemu maka kita telah berdosa kepada orang yang kita ajak berjanji ketemu.
Nilai moralnya adalah kita sebaiknya tidak boleh ingkar kepada janji telah kita sepakati bersama. Karena menurut pepatah, janji adalah hutang, sehingga segala sesuatu yang berupa janji seharusnya kita tepati agar tidak menjadi hutang dilain waktu.

Manacika Parisudha
            Manacika berarti perilaku yang berhubungan dengan pikiran. Manacika Parisudha adalah berpikir yang benar dan suci. Diantara Tri Kaya Parisudha ini, pikiranlah yang menentukan dan memegang peranan. Apa saja yang terdapat dalam pikiran akan tercetus dalam kata – kata, dan terwujud pula dalam perbuatan. Pikiran adalah sumber segala apa yang dilakukan oleh seseorang. Baik buruk perbuatan seseorang merupakan pencerminan dari pikiran. Bila baik dan suci pikiran seseorang, maka sudah tentu perbuatan dan segala penampilan akan bersih dan baik. Apabila diperhatikan benar – benar tentang segala perbuatan manusia di dunia ini, semuanya berpangkal pada pikiran. Dalam Pustaka kekawin Ramayana Sarah 1,4 disebutkan :
“ Ragadi musuh mapara, ri hati ya tong wanya
Tan madoh ring awak “
Artinya :
Hawa nafsu dan lain – lainnya adalah musuh yang dekat.
Di dalam hati tempatnya tidak jauh dari diri sendiri.
            Ajaran Manacika Parisudha menuntun manusia untuk berpikir yang baik, berusaha menolong dirinya dengan mengendalikan pikirannya sebelum akan berkata – kata dan berbuat. Mereka yang kuat mengendalikan pikirannya sehingga tidak mengumbar hawa nafsunya akan lebih mudah mencapai cita – citanya. Mereka tidak banyak digoda atau diperbudak oleh hawa nafsunya. Demikian sebaliknya mereka yang kurang mampu mengendalikan hawa nafsunya sulit akan mencapai cita – citanya sebab itu diperbudak, pikirannya terbelenggu hingga lupa apa yang dilakukan.
            Contoh Manacika Parisudha dalam kehidupan sehari – hari, yaitu:
·         Tidak mengingini sesuatu yang tidak kekal. Misalnya adalah tidak menginginkan barang milik teman. Bila teman memiliki barang yang lebih bagus dan mahal dari pada kita, biasanya kita mempunyai keinginan untuk memiliki, sehingga timbul rasa iri dalam hati. Bahkan bisa timbul rasa untuk mencuri barang tersebut.
Nilai moralnya adalah kita sebaiknya tidak menginginkan sesuatu yang belum tentu dapat kita miliki, karena itu dapat menimbulkan perasaan iri. Kita seharusnya mensyukuri apa yang kita dapatkan.
·         Tidak berpikir buruk terhadap mahluk lain. Misalnya adalah tidak mempunyai niat marah terhadap sesama manusia. Bila kita dimaki oleh orang pasti kita berkeinginan untuk marah kepada orang tersebut. Setelah marah maka kita pasti akan berantem.
Nilai moralnya adalah kita sebaiknya tidak mempunyai pemikiran buruk kepada orang karena itu akan berdampak buruk kepada diri sendiri ataupun orang lain. Kita harus dapat mengontrol pikiran kita agar kita selalu ada dalam kehidupan yang damai.
Makna yang diperoleh dari pelaksanaan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari – hari adalah :
1.    Setiap orang akan selalu berpikir telebih dahulu sebelum berkata ataupun berbuat.
2.    Setiap orang akan menjadi sopan santun dalam kehidupannya
3.    Kehidupan manusia di dunia ini akan tertib sehingga keadaan menjadi aman, tentram dan damai.
4.    Setiap orang tidak merasa was – was, takut ataupun curiga, karena masing – masing dapat mengendalikan dirinya.


TRI KAYA PARISUDHA









Disusun oleh:
I Ketut Bagus Merta Hadi                NIM. 1215051037






UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2012

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Costumer Service 24 Jam..

Join ? Langsung Contact Kami
WA : +855 1632 6427
LINE : Ligautama88